Lilin kecil di gunung es
Terlalu Baik dan Naif: Ketika Ketulusan Disalahartikan Dunia Di dunia yang dipenuhi kepentingan, menjadi orang baik sering terasa seperti berjalan tanpa pelindung di tengah hujan batu. Ketulusan yang lahir dari hati kadang tidak sampai kepada hati orang lain dengan bentuk yang sama. Ia berubah makna di perjalanan ditafsirkan sebagai kelemahan, dimanfaatkan sebagai kesempatan, atau dipuja secara berlebihan hingga melahirkan harapan yang tidak manusiawi. Manusia pada dasarnya tidak hanya melihat tindakan, tetapi juga menafsirkan tindakan itu sesuai kebutuhan dan pengalaman hidupnya. Maka kebaikan pun tidak pernah benar-benar murni ketika telah sampai di mata orang lain. Ia menjadi cermin: setiap orang melihat pantulan dirinya sendiri di sana. Orang yang terlalu baik sering hidup seperti sungai yang terus mengalir tanpa memilih siapa yang meminum airnya. Ia memberi tanpa banyak bertanya, menolong tanpa banyak menghitung, memaafkan tanpa banyak syarat. Namun sungai yan...


